Jumat, 02 November 2012

DASAR-DASAR PERLINDUNGAN TANAMAN


I.  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Dunia binatang (Animal Kingdom) terbagi menjadi beberapa golongan besar yang masing-masing disebut Filum. Dari masing-masing filum tersebut dapat dibedakan lagi menjadi golongan-golongan yang lebih kecil yang disebut Kelas. Dari Klas ini kemudian digolongkan lagi menjadi Ordo (Bangsa) kemudian Famili (suku), Genus (Marga) dan Spesies (jenis).
Beberapa filum yang anggotanya diketahui berpotensi sebagai hama tanaman adalah Aschelminthes (nematoda), Mollusca (siput), Chordata (binatang bertulang belakang), dan Arthropoda (serangga, tungau, dan lain-lain).
Hama adalah suatu organisme yang merusak tanaman dan dapat menimbulkan kerugian secara ekonomis. Dari berbagai filum di atas, yang paling banyak berperan sebagai hama adalah serangga. Serangga memiliki tiga bagian tubuh yang utama yaitu keoala (Caput), dada (Thorax), dan perut (Abdomen).
Hama Tanaman Pangan merupakan hama yang menyerang tanaman pangan baik secara kualitas maupun kuantitas, sehingga menimbulkan kerugian ekonomis bagi manusia.
Serangga merupakan hama yang paling banyak jenisnya dan paling banyak menyerang tanaman pertanian. Gejala serangan yang disebabkan hama tanaman pangan yaitu dapat merugikan secara eksernal maupum internal.

1.2  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini adalah agar dapat mengetahui ciri-ciri morfologi dari serangga yang menjadi hama pada tanaman pangan.
Kegunaan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui bagian-bagian morfologi serta gejala serangan dari serangga yang menjadi hama pada tanaman pangan.

II.  TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Ordo Orthoptera
Orthoptera berasal dari bahasa Yunani "orthos" yang berarti lurus dan "pteron" yang berari sayap. Sebagian anggotanya dikenal sebagai pemakan tumbuhan, namun ada beberapa di antaranya yang bertindak sebagai predator pada serangga lain (Bugguide.net, 2009).
Anggota dari ordo ini umumnya memilki sayap dua pasang. Sayap depan lebih sempit daripada sayap belakang dengan vena-vena menebal/mengeras dan disebut tegmina. Sayap belakang membranus dan melebar dengan vena-vena yang teratur. Pada waktu istirahat sayap belakang melipat di bawah sayap depan. Ada mulutnya bertipe penggigit dan pengunyah yang memiliki bagian-bagian labrum, sepasang mandibula, sepasang maxilla dengan masing-masing terdapat palpus maxillarisnya, dan labium dengan palpus labialisnya. Metamorfose sederhana (paurometabola) dengan perkembangan melalui tiga stadia yaitu telur —> nimfa —> dewasa (imago). Bentuk nimfa dan dewasa terutama dibedakan pada bentuk dan ukuran sayap serta ukuran tubuhnya. Salah satu jenis serangga anggota ordo Orthoptera ini adalah Belalang sembah/mantis    (Otomantissp.) (Rioardi, 2009).

2.2  Ordo Homoptera
Sayap depan anggota ordo Homoptera memiliki tekstur yang homogen, bisa keras semua atau membranus semua, sedang sayap belakang bersifat membranus. Tipe metamorfose sederhana (paurometabola) yang perkembangannya melalui stadium : telur —> nimfa —> dewasa. Baik nimfa maupun dewasa umumnya dapat bertindak sebagai hama tanaman. Serangga anggota ordo Homoptera ini meliputi kelompok wereng dan kutu-kutuan, seperti Wereng coklat (Nilaparvata lugens), Kutu putih daun kelapa (Aleurodicus sp.), dan Kutu loncat lamtoro (Heteropsylla sp.) (Rioardi, 2009).
2.3  Ordo Hemiptera
Nama "Hemiptera" berasal dari bahasa Yunani hemi (setengah) dan pteron (sayap) sehingga jika diartikan secara keseluruhan, Hemiptera berarti "yang bersayap setengah". Nama itu diberikan karena serangga dari ordo ini memiliki sayap depan yang bagian pangkalnya keras seperti kulit, namun bagian belakangnya tipis seperti membran (Wikipedia, 2009).
Sayap depan ini pada sebagian anggota Hemiptera bisa dilipat di atas tubuhnya dan menutupi sayap belakangnya yang seluruhnya tipis dan transparan, sementara pada anggota Hemiptera lain sayapnya tidak dilipat sekalipun sedang tidak terbang (Wikipedia, 2009).
Metamorfose bertipe sederhana (paurometabola) yang dalam perkembangannya melalui stadia : telur —> nimfa —> dewasa. Bentuk nimfa memiliki sayap yang belum sempurna dan ukuran tubuh lebih kecil dari dewasanya. Beberapa contoh serangga anggota ordo Hemiptera ini adalah Walang sangit (Leptorixa acuta), Kepik hijau (Nezara viridula), dan Wereng coklat (Nilaparvata lugens) (Rioardi, 2009).

2.4  Ordo Lepidoptera
Kata Lepidoptera berasal dari bahasa Yunani, lpidos yang berarti sisik dan pthera yang berarti sayap. Lepidoptera mengalami metamorfosis lengkap, akan melalui empat tahap siklus hidup: telur, larva/ulat, pupa/kepompong, dan imago/dewasa. (Harris M., 2002) 
Lepidoptera adalah Ordo dari serangga yang termasuk ngengat dan kupu-kupu. Kupu-kupu dewasa memiliki antena, mata majemuk, tiga pasang kaki, exoskeleton yang keras, dan tubuh yang terbagi menjadi tiga bagian: bagian kepala, dada, dan perut (Animaldiversity, 2002).
Secara sederhana, kupu-kupu dibedakan dari ngengat alias kupu-kupu malam berdasarkan waktu aktifnya dan ciri-ciri fisiknya. Kupu-kupu umumnya aktif di waktu siang (diurnal), sedangkan gengat kebanyakan aktif di waktu malam (nocturnal). Kupu-kupu beristirahat atau hinggap dengan menegakkan sayapnya, ngengat hinggap dengan membentangkan sayapnya. Kupu-kupu biasanya memiliki warna yang indah cemerlang, ngengat cenderung gelap, kusam atau kelabu. Meski demikian, perbedaan-perbedaan ini selalu ada perkecualiannya, sehingga secara ilmiah tidak dapat dijadikan pegangan yang pasti (Van Mastrigt dan Rosariyanto, 2005). 
Tryporyza innotata dinamakan pengerek batang padi putih karena ngegatnya berwarna putih. Dahulu hama ini dikenal hama yang menghuni hamparan sawah tadah hujan. Hama ini dominan didaerah tadah hujan karena ham aini mampu berpuasa 3 sampai 6 bulan pada saat tanah sedang kering dan tidak ada tanaman padi (Didi Darmadi, 2008).
      
2.5  Ordo Coleoptera
Kumbang Helm (Coccinela arcuta) adalah salah satu hewan kecil anggota ordo Coleoptera. Mereka mudah dikenali karena penampilannya yang bundar kecil dan punggungnya yang berwarna-warni serta pada beberapa jenis berbintik-bintik. Di negara-negara Barat, hewan ini dikenal dengan nama ladybird atau ladybug. Kumbang Helm dikenal sebagai sahabat petani karena ia suka memakan serangga-serangga hama seperti kutu daun walaupun ada beberapa spesies kepik yang juga memakan daun sehingga merusak tanaman (Wikipedia, 2009).
Metamorfose bertipe sempurna (holometabola) yang perkembangannya melalui stadia : telur —> larva —> kepompong (pupa) —> dewasa (imago). Kepompong tidak memerlukan pakan dari luar (istirahat) dan bertipe bebas/liberal. Beberapa contoh anggotanya adalah Kumbang badak (Oryctes rhinoceros), Kumbang janur kelapa (Brontispa longissima Gestr) dan Kumbang helm (Coccinela arcuta S.) (Rioardi, 2009).

2.6  Ordo Odonata
Serangga dari Ordo Odonata memiliki anggota yang cukup besar dan mudah dikenal. Sayap dua pasang dan bersifat membranus. Pada capung besar dijumpai vena-vena yang jelas dan pada kepala dijumpai adanya mata facet yang besar. Metamorfose tidak sempurna (Hemimetabola), pada stadium larva dijumpai adanya alat tambahan berupa insang dan hidup di dalam air. Anggota-anggotanya dikenal sebagai predator pada beberapa jenis serangga keecil yang termasuk hama, seperti beberapa jenis trips, wereng, kutu loncat serta ngengat penggerek batang padi (Rioardi, 2009).
Siklus hidup capung, dari telur hingga mati setelah dewasa, bervariasi antara enam bulan hingga maksimal enam atau tujuh tahun.  Capung meletakkan telurnya pada tetumbuhan yang berada di air. Ada jenis yang senang dengan air menggenang, namun ada pula jenis yang senang menaruh telurnya di air yang agak deras. Setelah menetas, tempayak (larva) capung hidup dan berkembang di dasar perairan, mengalami metamorfosis menjadi nimfa, dan akhirnya keluar dari air sebagai capung dewasa (Wikipedia, 2009).

2.7  Ordo Araneida
Ordo Araneida, morfologi umumnya Stadium Dewasanya memiliki 8 buah (4 pasang kaki), berbeda dengan kelas Insekta karena stadium dewasanya hanya memiliki 6 buah (3 pasang kaki). Alat Mulut mengalami modifikasi (perubahan bentuk) yang jelas kelihatan (Kelicera, Palpus Maksilaris dan Hipostoma), yang berada diatas Basis Kapituli yang diperuntukkan untuk menghisap, tidak memiliki Antena, Sayap, dan Mata Majemuk (Wikipedia, 2008).
Segmentasi dari tubuh Araneida berbeda diantara Araneida lainnya. Secara umum tubuh artropoda dapat dibagi menjadi 4 bagian, antara lain Kapitulum (Gnatosoma), menyerupai kepala, ditemukan alat-alat mulut antara lain : sepasang Kelisera, diantara kelisera ditemukan mulut,  sepasang Palpus Maksilaris (Palpus, Pedipalpus), dengan atau tanpa cakar dan sebuah Hipostoma, Propodosoma, daerah pasangan kaki ke-1 dan ke-2, Metasoma, daerah pasangan kaki ke-3 dan ke-4 dan, Opistosoma, merupakan daerah posterior (Wikipedia, 2008).

2.8  Ordo Rodentia
Nama Rodentia berasal dari kata kerja Latin rodere (menggerogoti). Ordo ini terdiri lebih dari sepertiga dari jenis mamalia diketahui, dan secara individu mereka adalah mamalia yang paling banyak di bagian dunia (Bachtiar, 2009).
Hewan pengerat adalah salah satu ordo dari binatang menyusui. Bahasa Latinnya Rodentia. Ada sekitar 2000 sampai 3000 spesies binatang pengerat yang ditemukan di semua benua kecuali Antarktika. Hewan pengerat memiliki gigi depan yang selalu tumbuh dan harus diasah dengan menggerigiti sesuatu. Tikus berukuran sedang, cenderung lebih kecil daripada tikus got, dengan panjang 30-40cm (termasuk ekor). Warna rambut coklat kekuningan. Perutnya berambut kelabu dengan tepi putih. Nama argentiventer berarti "berperut keperakan" Ekornya berwarna coklat (Wikipedia, 2009).
Tinjauan terakhir menunjukkan tikus sawah merupakan jenis tersendiri dengan 4 anak jenis yaitu Rattus argentiventer argentiventer (Thailand, Malaya, Sumatra, Jawa, Nieuw-Guinea dan barangkali Vietnam, Kamboja serta Laos), Rattus argentiventer kalimantanensis (Kalimantan), Rattus argentiventer pesticulus (Sulawesi dan sebagian besar Nusa Tenggara) dan Rattus argentiventer saturnus (Sumba) (Wikipedia, 2009).
III.  METODOLOGI
3.1  Tempat dan Waktu
Pelaksanaan praktikum tentang Pengenalan Serangga Hama Tanaman Pangan ini dilaksanakan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. Pada tanggal 14 Oktober 2009, pada pukul 14.00 Wita sampai 17.30 Wita.

3.2  Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah papan bedah, jarum pentul, toples, alat tulis menulis, dan buku gambar.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Belalang (Valanga nigricornis) beserta gejala serangannya pada tanaman jagung (Zea mays), Kepik Hijau (Nezara viridula L.) beserta serangannya pada padi (Oryza sativa), Walang Sangit (Leptocorixa acuta) beserta gejala serangannya pada tanaman padi (Oryza sativa), Ulat Penggerek Tongkol Jagung(Heliothis armigera) beserta gejala serangannya pada tanaman jagung (Zea mays), Ulat Penggerek Batang Jagung (Ostrinia furnacalis) beserta gejala serangannya pada tanaman jagung (Zea mays), Ulat   Penggerek   Batang  Padi  Putih   (Tryporyza innotata  beserta   gejala serangannya   pada   tanaman  padi   (Oryza sativa), Wereng Coklat (Nilaparvata lugens) beserta gejala serangannya pada tanaman  padi (Oryza sativa), Kumbang Helm (Coccinella arcuta), Capung (Isehnura cervula), Laba-laba (Lycosa pseudoannulata), Tikus Sawah (Rattus argentiventer) dan alkohol 70%.
3.3  Metode Praktek
Metode praktek dari praktikum ini adalah pertama-tama menyiapkan spesimen yang akan diamati lalu memasukkan spesimen ke dalam toples yang telah di isi dengan alkohol 70%. Kemudian meletakkan spesimen yang telah mati ke papan bedah dan ditusuk menggunakan jarum pentul agar spesimen tidak bergeser. Setelah itu menggambar morfologi dari spesimen tersebut. Setelah menggambar spesimen, selanjutnya menggambar gejala serangan yang ditimbulkan oleh masing-masing spesimen.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar